Sebelum saya mempelajari mempelajari secara mendalam tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya hanya berpikir bagaiman peserta didik dapat memahami semua materi pembelajaran yang saya sampaikan. Peserta didik akan diangggap siswa yang berhasil apabila mampu mengerjakan semua tugas yang disampaikan oleh guru sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Sebaliknya peserta didik akan dianggap siswa yang gagal apabila tidak mampu megerjakan tugas dari guru sesuai dengan kriteria yang ditentukan tanpa melihat potensi lain yang dimiliki oleh peserta didik saya. Oleh sebab itu kebanyakan siswa belajar di sekolah mnegalami keterpaksaan, cepat bosan dan tidak betah berlama-lama belajar di sekolah. Sebagai seorang guru SD saya hanya beranggapan bahwa tugas saya sebagai guru adalah mentransfer ilmu berdasarkan kurikulum yang berlaku yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang kemudian dijabarkan dalam indikator-indikator yang sifatnya memaksa. Saya menetapkan KKM masing-masing idikator, kompetensi dasar dan standar kompetensi. Namun yang terjadi banyak siswa yang tidak mampu mencapai KKM yang ditentukan, siswa yang mampu mencapai KKM sebelum remidial hanya kurang dari 50%. Selama ini saya tidak memahami kebutuhan anak dalam belajar yang sesungguhnya. Anak tidak memiliki kenyamanan dan kemerdekaan dalam belajar, bagi saya jika mereka mengikuti seluruh perintah dan tertib dalam pengumpulan tugas serta selalu hadir, siap berada dalam kegiatan pembelajaran,dan dapat memperoleh nilai lebih dari KKM merupakan suatu keberhasilan. Saya hanya yakin bahwa pendidikan dan pembelajaran menggunakan pendekatan pemberian materi, tugas dan sanksi merupakan metode yang efektif untuk mendisiplinkan anak dan membiasakan anak untuk bertanggung jawab atas tugas yang diberikan oleh guru.Terkadang saya dan rekan sejawat sering membicarakan tentang banyak anak yang tidak mengumpulkan tugas, sulit di atur dan tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu, walaupun soal soal atau tugas itu menurut saya sangat mudah dan materi sudah saya jelaskan.
Setelah mempelajari secara mendalam modul 1.1 tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya mendapat pengetahuan dan pengalaman baru yang sangat berharga bagi saya. Pengetahuan yang saya peroleh tentang pendidkan. Menurut Ki Hadjar Dewantara “Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.” Selan itu pendidikan juga merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat.” Jadi tujuan Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara “ Menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamtan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu peran kita sebagai pendidik tidak boleh terlepas dari Trilogi Pendidikan yaitu Ingarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tutwuri Handayani. Sehingga kita sebagai pendidik harus dapat memberikan tuntunan kepada peserta didik agar menemukan kemeredekaannya dalam belajar. Di sinilah saya mulai berpikir bahwa yang selama ini saya lakukan dalam menjalankan tugas saya sebagi guru ternyata banyak yang keliru. Maka sejak saat ini sedikkit demi sedikit saya harus segera merubah prilaku saya sebagai seorang pendidik dengan konsep MERRDEKA yaitu
1. Mulai dari diri sendiri, saya mulai Membenahi
mindset saya mulai dari diri sendiri. Dengan begitu saya berusaha memberikan
tauladan yang baik dari cara bersikap dan bertutur kata. Bahwasannya seorang
anak mengamati perilaku kita dan menirunya. Oleh sebab itu saya harus memiliki
karakter yang positif agar anak sebagai peniru lebih berkarakter positif
agar sesuai sengan semboyan Ingarso Sung Tuladha.
2. Eksplorasi konsep, saya mencoba menggali
kodrat dan minat bakat anak, saya menyadari bahwa setiap anak itu adalah
unik dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki. Mulai belajar
menuntun, mengarahkan dan membimbing mereka sesuai kodrat mereka. Tidak
menjadikan KKM sebagai satu-satunya dasar pedoman berprestasi, melainkan bangun
segala sesuatu yang mereka miliki.
3. Ruang kolaborasi, memberikan kebebasan bagi
peserta didik seperti memberi kesempatan pada peserta didik untuk berkolaborasi
dengan temannya maupun orang lain, mengungkapkan perasaan serta ide-ide peserta
didik. Dengan begitu kita sebagai pendidik bisa menuntun mereka kepada
tujuan pembelajaran sesuai kemauan mereka yang tentunya kemauan yang dapat menumbuhkan
sifat karakter positif anak.
4. Refleksi terbimbing, saya berusaha menjadi
Guru, Orang Tua, Teman, Sahabat dan fasilitator yang baik yang mampu
memberi masukan pengaruh positif bagi mereka sehingga muncul keterikatan
emosional yang kuat sehingga akan lebih
memudahkan dalam menuntun mereka sesuai kodrat mereka.
5. Demonstrasi konstektual, memberikan kebebasan
bagi peserta didik seperti memberi kesempatan pada peserta didik untuk
menyampaikan hasil karya sesuai dengan mainat dan bakatnya, mengungkapkan
perasaan serta ide-ide yang mereka miliki sesuai dengan kodrat dan latar
belakang mereka masing-masing.
6. Elaborasi pemahaman, saya akan memberi
kebebasan kepada peserta didik untuk memperoleh berbagai informasi yang mereka
inginkan dari berbagai sumber sesuai dengan kemampuannya, sehingga mereka
memperoleh pemahaman yang mereka inginkan dengan optimal.
7. Aksi nyata, Apapun yang tindakan yang
dilakukan pendidik harus beroreintasi kepada anak, demi kepentingan mereka,
anak adalah subjek, teman belajar. Karena sejatinya pendidik juga belajar dari
peserta didik.
Agar kelas saya dapat mencerminkan
pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya juga akan membuat kerangka pembelajaran sesuai dengan
konsep MERRDEKA yaitu: Pada tahapan Mulai
dari diri, siswa dipersilahkan mengungkapkan minat yang mereka inginkan dalam
belajar. Sementara pada proses Eksplorasi konsep, para peserta diberi kebebasan
menemukan sendiri materi yang ingin
mereka pelajari sesuai dngan minat dan bakatnya. Setelah itu, Ruang kolaborasi,
pada langkah ini peserta didik diberikan instruksi untuk membuat kelompok.
Desain yang diberikannya, yakni buatlah kelompok diskusi untuk memahami permasalahan
yang disampaikan oleh guru. Kemudian, pada Refleksi terbimbing para peserta
didik diberikan masukan berdasarkan hasil pekerjaan mereka. Demontrasi
kontekstual, memberi kesempatan pada peserta didik
untuk menyampaikan hasil karya sesuai dengan minat dan bakatnya, mengungkapkan
perasaan serta ide-ide yang mereka miliki sesuai dengan kodrat dan latar
belakang mereka masing-masing. Selanjutnya,
pada Elaborasi pemahaman penulis mencoba menggali memori peserta didik dengan
sebuah pernyataan yang dapat mengelaborasi pemahaman mereka. Koneksi antar
materi, penulis mencoba menggali pemahaman peserta didik dengan menghubungkan materi
dengan kontek kehidupan mereka sehari-hari.Aksi nyata, penulis mempersilakan
para peserta didik untuk mempresentasikan, memamerkan dan menampilkan hasil
karya dan produknya.

Saya setuju dengan pendapat anda ,anda hebat saya mengikuti jejak anda semoga anda menjadi guru penggerak yang berhasil dan menjadi inspirasi guru-guru yang lain
BalasHapusAmiin, semoga kita menjadi agen-agen perubahan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia
HapusHebat pa Ade Sopian, yang bapak sampaikan menjadi inspirasi bagi saya
BalasHapusTerima kasih ats komentarnya
Hapus