Jumat, 29 Oktober 2021

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1?

     Sebelum saya mempelajari mempelajari secara mendalam tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya hanya berpikir bagaiman peserta didik dapat memahami semua materi pembelajaran yang saya sampaikan. Peserta didik akan diangggap siswa yang berhasil apabila mampu mengerjakan semua tugas yang disampaikan oleh guru sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Sebaliknya peserta didik akan dianggap siswa yang gagal apabila tidak mampu megerjakan tugas dari guru sesuai dengan kriteria yang ditentukan tanpa melihat potensi lain yang dimiliki oleh peserta didik saya. Oleh sebab itu kebanyakan siswa belajar di sekolah mnegalami keterpaksaan, cepat bosan dan tidak betah berlama-lama belajar di sekolah. Sebagai seorang guru SD saya hanya beranggapan bahwa tugas saya sebagai guru adalah mentransfer ilmu berdasarkan kurikulum yang berlaku yang sesuai dengan  standar kompetensi dan kompetensi dasar yang kemudian dijabarkan dalam indikator-indikator yang sifatnya memaksa. Saya menetapkan KKM masing-masing idikator, kompetensi dasar dan standar kompetensi. Namun yang terjadi banyak siswa yang tidak mampu mencapai KKM yang ditentukan, siswa yang mampu mencapai KKM sebelum remidial hanya kurang dari 50%. Selama ini saya tidak memahami kebutuhan anak dalam belajar yang sesungguhnya. Anak tidak memiliki kenyamanan  dan kemerdekaan dalam belajar, bagi saya jika mereka mengikuti seluruh perintah dan tertib dalam pengumpulan tugas serta selalu hadir, siap berada dalam kegiatan pembelajaran,dan dapat memperoleh nilai lebih dari KKM merupakan suatu keberhasilan. Saya hanya yakin  bahwa pendidikan dan pembelajaran menggunakan pendekatan pemberian materi, tugas dan sanksi merupakan metode yang efektif untuk mendisiplinkan anak dan membiasakan anak untuk bertanggung jawab atas tugas yang diberikan oleh guru.Terkadang  saya dan rekan sejawat sering membicarakan tentang banyak anak yang tidak mengumpulkan tugas, sulit di atur dan tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu, walaupun soal soal atau tugas itu menurut saya sangat mudah dan materi sudah saya jelaskan.

 Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini?

     Setelah mempelajari secara mendalam modul 1.1 tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya mendapat pengetahuan dan pengalaman baru yang  sangat berharga bagi saya. Pengetahuan yang saya peroleh tentang pendidkan. Menurut Ki Hadjar Dewantara “Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.” Selan itu pendidikan juga merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat.”  Jadi tujuan Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara “ Menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamtan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu peran kita sebagai pendidik tidak boleh terlepas dari Trilogi Pendidikan yaitu Ingarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tutwuri Handayani. Sehingga kita sebagai pendidik harus dapat memberikan tuntunan kepada peserta didik agar menemukan kemeredekaannya dalam belajar. Di sinilah saya mulai berpikir bahwa yang selama ini saya lakukan dalam menjalankan tugas saya sebagi guru ternyata banyak yang keliru. Maka sejak saat ini  sedikkit demi sedikit saya harus segera merubah prilaku saya sebagai seorang pendidik dengan konsep MERRDEKA yaitu

1.  Mulai dari diri sendiri, saya mulai Membenahi mindset saya mulai dari diri sendiri. Dengan begitu saya berusaha memberikan tauladan yang baik dari cara bersikap dan bertutur kata. Bahwasannya seorang anak mengamati perilaku kita dan menirunya. Oleh sebab itu saya harus memiliki karakter yang positif  agar anak sebagai peniru lebih berkarakter positif agar sesuai sengan semboyan Ingarso Sung Tuladha.

2.  Eksplorasi konsep, saya mencoba menggali kodrat dan minat bakat  anak, saya menyadari bahwa setiap anak itu adalah unik dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki. Mulai belajar menuntun, mengarahkan dan membimbing mereka sesuai kodrat mereka. Tidak menjadikan KKM sebagai satu-satunya dasar pedoman berprestasi, melainkan bangun segala sesuatu yang mereka miliki.

3.  Ruang kolaborasi, memberikan kebebasan bagi peserta didik seperti memberi kesempatan pada peserta didik untuk berkolaborasi dengan temannya maupun orang lain, mengungkapkan perasaan serta ide-ide peserta didik.  Dengan begitu kita sebagai pendidik bisa menuntun mereka kepada tujuan pembelajaran sesuai kemauan mereka yang tentunya kemauan yang dapat menumbuhkan sifat karakter positif anak.

4.  Refleksi terbimbing, saya berusaha menjadi Guru, Orang Tua, Teman, Sahabat dan fasilitator yang baik  yang mampu memberi masukan pengaruh positif bagi mereka sehingga muncul keterikatan emosional yang kuat sehingga akan  lebih memudahkan dalam menuntun mereka sesuai kodrat mereka.

5. Demonstrasi konstektual, memberikan kebebasan bagi peserta didik seperti memberi kesempatan pada peserta didik untuk menyampaikan hasil karya sesuai dengan mainat dan bakatnya, mengungkapkan perasaan serta ide-ide yang mereka miliki sesuai dengan kodrat dan latar belakang mereka masing-masing. 

6. Elaborasi pemahaman, saya akan memberi kebebasan kepada peserta didik untuk memperoleh berbagai informasi yang mereka inginkan dari berbagai sumber sesuai dengan kemampuannya, sehingga mereka memperoleh pemahaman yang mereka inginkan dengan optimal.

7.  Aksi nyata, Apapun yang tindakan yang dilakukan pendidik harus beroreintasi kepada anak, demi kepentingan mereka, anak adalah subjek, teman belajar. Karena sejatinya pendidik juga belajar dari peserta didik.

 
Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD?

     Agar kelas saya dapat mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya juga akan membuat kerangka pembelajaran sesuai dengan konsep MERRDEKA yaitu: Pada tahapan Mulai dari diri, siswa dipersilahkan mengungkapkan minat yang mereka inginkan dalam belajar. Sementara pada proses Eksplorasi konsep, para peserta diberi kebebasan menemukan sendiri  materi yang ingin mereka pelajari sesuai dngan minat dan bakatnya. Setelah itu, Ruang kolaborasi, pada langkah ini peserta didik diberikan instruksi untuk membuat kelompok. Desain yang diberikannya, yakni buatlah kelompok diskusi untuk memahami permasalahan yang disampaikan oleh guru. Kemudian, pada Refleksi terbimbing para peserta didik diberikan masukan berdasarkan hasil pekerjaan mereka. Demontrasi kontekstual,  memberi kesempatan pada peserta didik untuk menyampaikan hasil karya sesuai dengan minat dan bakatnya, mengungkapkan perasaan serta ide-ide yang mereka miliki sesuai dengan kodrat dan latar belakang mereka masing-masing.  Selanjutnya, pada Elaborasi pemahaman penulis mencoba menggali memori peserta didik dengan sebuah pernyataan yang dapat mengelaborasi pemahaman mereka. Koneksi antar materi, penulis mencoba menggali pemahaman peserta didik dengan menghubungkan materi dengan kontek kehidupan mereka sehari-hari.Aksi nyata, penulis mempersilakan para peserta didik untuk mempresentasikan, memamerkan dan menampilkan hasil karya dan produknya.

Senin, 28 November 2016

BAHAN MATERI PELAJARAN KELAS 4

Tema                                      : 5 (Lima) Pahlawanku
Sub Tema                               : 1 (Satu) Perjuangan Para Pahlawan
Kegiatan Pembelajaran        : 1 (Satu)

Fokus Pembelajaran:
Bahasa Indonesia :  Non Fiksi
IPS                       : Peninggalan Sejarah Masa Hindu, Budha dan Islam serta Pengaruhnya
IPA                      : Cahaya

Tujuan Pembelajaran:
1.      Setelah membaca teks tentang Raja Purnawarman, siswa mampu menjawab pertanyaan dengan benar.
2.      Setelah menjawab pertanyaan berdasarkan teks, siswa mampu menceritakan kembali isi cerita dengan menggunakan bahasanya sendiri secara rinci.
3.      Setelah mengamati gambar, siswa mampu mengidentifikasi peninggalan kerajaan di masa Hindu, Budha dan Islam serta pengaruhnya bagi wilayah setempat dengan benar.
4.      Setelah berdiskusi, siswa mampu mengomunikasikan peninggalan kerajaan di masa Hindu, Budha dan Islam dan pengaruhnya di wilayah setempat dengan menggunakan peta pikiran.
5.      Setelah melakukan percobaan tentang cahaya , siswa mampu menyimpulkan sifat-sifat cahaya dan hubungannya dengan penglihatan dengan benar.
6.      Setelah melakukan percobaan tentang cahaya, siswa mampu menulis laporan tentang sifat cahaya dan hubungannya dengan penglihatan


URAIAN MATERI


Memahami Keteladan dari Raja Purnawarman, Panji Segala Raja

 













Raja Purnawarman mulai memerintah Kerajaan Tarumanegara pada tahun 395 M. Pada masa pemerintahannya, ia selalu berjuang untuk rakyatnya. Ia membangun saluran air dan memberantas perompak.
Raja Purnawarman sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Ia memperbaiki aliran Sungai Gangga di daerah Cirebon. Dua tahun kemudian, ia juga memperbaiki dan memperindah alur Sungai Cupu sehingga air bisa mengalir ke seluruh kerajaan. Para petani senang karena ladang mereka mendapat air dari aliran sungai sehingga menjadi subur. Ladang para petani tidak kekeringan pada musim kemarau.
Raja Purnawarman juga berani memimpin Angkatan Laut Kerajaan Tarumanegara untuk memerangi bajak laut yang merajalela di perairan Barat dan Utara kerajaan. Setelah Raja Purnawarman berhasil membasmi semua perompak, keadaan menjadi aman. Rakyat di Kerajaan Tarumanegara kemudian hidup aman dan sejahtera.
Sebagai wujud kecintaan rakyat Kerajaan Tarumanegara kepada Raja Purnawarman, telapak kakinya diabadikan dalam bentuk prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Ciaruteun.
 
Sumber: http://atlantissunda.wordpress.com(dengan perubahan)


Berikut adalah beberapa tokoh dan peninggalan kerajaan pada masa kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam.
Peninggalan yang mereka wariskan bukan saja benda bersejarah, namun juga pemikiran dan nilai-nilai perjuangan yang telah mengispirasi bangsa Indonesia.

 
Dayu sangat kagum dengan perjuangan Raja Purnawarman. Banyak yang telah dilakukan untuk rakyatnya. Sambil duduk di tepi kolam yang jernih airnya, Dayu masih merenungi jasa-jasa Raja Purnawarman, terutama pembangunan saluran air. Ia berpikir, pasti saluran tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat saat itu.
Dayu terus merenung sambil memandangi wajahnya yang terpantul di kolam.Tahukah kamu mengapa Dayu bisa melihat dirinya di air kolam? Air kolam bisa memantulkan cahaya. Kamu akan belajar tentang cahaya
Sifat-sifat cahaya
Alat dan Bahan Percobaan
1.      Cahaya merambat lurus
Percobaan menggunakan tiga karton tebal dan lilin. Lubangi bagian tengah ketiga karton tersebut. Letakkan dengan posisi tiga lubang tersebut sejajar dengan cahaya lilin tepat di belakang lubang. Perhatikan apa yang terjadi! Lalu coba menggeser posisi setiap lubang menjadi tidak sejajar. Perhatikan perbedaanya!

 
2.   Cahaya menembus benda bening
Percobaan menggunakan cahaya matahari/ cahaya senter, gelas/benda-benda transparan/bening, benda-benda berwarna gelap, dan benda-benda bening, tetapi berwarna. Letakkan peralatan seperti pada gambar. Arahkan cahaya ke tembok berwarna putih. Perhatikan apa yang terjadi.

 

3.  Cahaya dapat dipantulkan
Percobaan menggunakan dua cermin datar dan senter. Coba pantulkan cahaya senter menggunakan cermin. Coba berbagai posisi cermin yang berbeda dan gunakan lebih banyak cermin. Amatilah apa yang terjadi pada cahaya pantul!

 

4.   Cahaya dapat dibiaskan
Percobaan menggunakan pensil yang setengah bagian panjanganya berada di dalam gelas berisi air. Amati pensil dari sisi samping luar gelas. Bagaimana penampakan dan besar pensil dibanding aslinya?

 

Karangan Fiksi dan Nonfiksi
1. Karangan Fiksi yaitu karangan yang berisi kisahan atau cerita yang dibuat berdasarkan khayalan atau imajinasi pengarang. Fiksi atau cerita rekaan biasanya berbentuk novel, dan cerita pendek (cerpen). Fiksi ilmiah fiksi ilmu pengetahuan adalah fiksi yang ditulis berdasarkan ilmu pengetahuan, teori, atau spekulasi ilmiah. Karangan fiksi berusaha menghidupkan perasaan atau menggugah emosi pembacanya. Itulah sebabnya, tulisan ini lebih dipengaruhi oleh subjektifitas pengarangnya. Bahasa tulisan fiksi selain bermakna denoktatif juga konotatif, dan asosiatif yaitu makna tidak sebenarnya. Selain itu juga bermakna ekspresif yaitu membanyangkan suasana pribadi pengarang. Bahasa tulisan fiksi juga sugestif yaitu bersifat mempengaruhi pembaca dan plastis yaitu bersifat indah untuk menggugah perasaan pembaca.
2. Karangan nonfiksi yaitu karangan yang dibuat berdasarkan fakta, realita, atau hal-hal yang benar-benar dan terjadi dalam keidupan kita sehari-hari. Tulisan nonfiktif biasanya berbentuk tulisan ilmiah dan ilmiah populer, laporan, artikel, feature, skripsi, tesis, desertasi, makalah, dan sebagainya. Karangan nonfiktif berusaha mencapai taraf objektifitas yang tinggi, berusaha menarik, dan menggugah nalar (pikiran) pembaca. Bahasa karangan nonfiktif bersifat denotative dan menunjukan pada pengertian yang sudah terbatas sehingga tidak bermakna ganda